Materi Satuan Panjang

Gambar
  Soal Satuan Panjang Oleh: Tri Handoko, S. Pd   Contoh ; 1 Km = . . . . . m 1 x 1.000           = 1.000 Jadi, 1 Km = 1.000 m 1.000 m      = . . . . . dam 1.000 : 100      = 10 Jadi, 1 m                = 10 dam Kerjakan soal dibawah ini dengan langkah-langkah yang sudah diajarkan bapak ibu guru dikelas! 1. 2 m = ……….. cm 2. 4 m = ……….. cm 3. 6 m = ……….. cm 4. 9 m = ……….. cm 5. 10 m = ……….. cm 6. 11 m = ……….. cm 7. 13 m = ……….. cm 8. 15 m = ……….. cm 9. 18 m = ……….. cm 10. 20 m = ……….. cm 11. 100 cm = ……….. m 12. 200 cm = ……….. m 13. 400 cm = ……….. m 14. 700 cm = ……….. m 15. 800 cm = ……….. m 16. 1.000 cm = ……….. m 17. 1.200 cm = ……….. m 18. 1.600 cm = ……….. m 19. 1.900 cm = ……….. m 20. 2.000 cm = ……….. m 21. 1.000 m = ……….. hm 22. 1.500 m = ……….. dam 23. 1 hm     = ……….. m ...

Naskah Cerita "Timun Mas Diburu Buto Ijo"

 

Timun Mas Diburu Buto Ijo

 

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang terhormat semua dewan juri, bapak dan ibu guru yang saya hormati, dan teman-temanku yang berbahagia.

Perkenalkan nama saya Kalandra Nareswara Handoko dari SDN Tanjungsari Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen. Pada Kesempatan ini, saya akan membawakan sebuah cerita dengan judul “Timun Mas Diburu Buto Ijo”. Selamat mendengarkan yah!

Hai teman-teman, tau tidak cerita Timun Mas Diburu Buto Ijo? Nah, mari dengarkan ceritanya ya! Dikisahkan dalam sebuah desa bernama Tuwung, hiduplah seorang janda yang sangat miskin, bernama Mbok Tumi. Dia hanya hidup sebatang kara, dia hanya tinggal digubuk yang sangat sederhana peninggalan suaminya, yang bernama Pak Toso yang mati dimakan Buto Ijo.

Mbok Tumi bekerja sebagai peladang didekat hutan Gungliwung yang jaraknya sangat jauh. Setiap hari Mbok Tumi keladang untuk mencangkul, menanam atau memetik sayur dengan berjalan kaki. Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . . selangkah demi selangkah dilewatinya. Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . . Lelahnya sudah tidak dirasa, capeknya pun sudah menjadi biasa.

Suatu hari ketika Mbok Tumi sedang memetik sayuran diladang, tiba tiba terdengar suara langkah-langkah yang berat berjalan. Dung . . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . (sambil melangkah seperti raksasa).Ternyata itu adalah suara langkah Buto Ijo. Makhluk raksasa yang suka makan daging manusia. Dung . . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .

Mbok Tumi takut bukan kepalang, dia tidak bisa lari kemana-mana.

“A a a a a apa kamu yang na na namanya Buto Ijo?”

“Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Menang akulah Buto Ijo si pemangsa manusia. Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha.

Mbok Tumi semakin ketakutan. Badannya semakin gemeteran. (Ekspresi gemeteran)

“Buto Ijo . . . jangan makan aku. Biarkan aku pulang. Aku sudah tua! Dagingku pahit jika dimakan bisa membuat perutmu sakit nanti” Mbok Tumi berusaha merayu Buto Ijo agar tidak dimakan.

“Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Betul sekali, kamu sudah tua pasti dagingmu tidak enak, ini aku titip biji mentimun untuk ditanam dikebun belakang rumahmu. Kamu harus menyiraminya 7 kali sehari. 17 tahun kelak aku akan datang kerumahmu untuk mengambil buah mentimun yang kamu tanam itu. Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha.”

Setelah menitipkan biji mentimun pada mbok Tumi, Buto Ijo pergi lagi ke hutan Gung Liwung. . Dung . . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .

Biji mentimun dari Buto Ijo pun ditanam. Semakin hari daunnya bertambah lebat, dan buah mentimunnya bertambah banyak. Ada satu buah mentimun yang besar sekali melebihi buah semangka. Buah itu oleh Mbok Tumi dibuka, ternyata didalam buah mentimun itu ada seorang bayi yang sangat cantik. Oe . . . oe . . . oe . . . oe . . . oe . . . oe. Bayi itu diberi nama Timun Emas.

Singkat kata singkat cerita, 17 Tahun telah berlalu. Timun Mas kini sudah dewasa. 17 tahun setelah perjanjian Mbok Tumi dengan Buto Ijo, itu berarti sebentar lagi Buto Ijo akan datang untuk mengambil Timun Mas.

Dung . . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .

“Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Mbok Tumi, mana buah mentimun yang paling besar itu?” Bentak Buto Ijo.

“Buah paling besar yang mana Buto Ijo? Semua buah mentimunnya kecil-kecil dan sudah busuk karena telah lama ku simpan.”  

“Jangan banyak alasan Mbok Tumi, kalo kalau kamu tidak jujur rumahmu ini akan ku hancurkan”

“Baiklah Buto Ijo. Jujur saja, buah yang terbesar itu adalah bayi perempuan. Sekarang dia sudah berumur 17 tahun. Dia kuberi nama Timun Mas”

“Mana Timun Mas Sekarang?”

Ketika ditanya keberadaan Timun Mas, Mbok Tumi mencoba berbohong agar Timun Mas tidak dimakan Buto Ijo.

“Dia sedang sakit. Kalo kamu makan manusia sakit, nanti kamu juga akan sakit. Mau kamu nanti sakit Buto Ijo?”

Kemudian Buto Ijopun mengurungkan niatnya untuk memakan Timun Mas, Dia akan kembali 3 hari lagi untuk memakan Timun Mas. Selama 3 hari itu juga, Mbok Tumi berfikir bagaimana caranya agar Timun Mas tidak dimakan Buto Ijo.

Suatu hari ketika Mbok Tumi Sedang di ladang, tiba-tiba bertemu pendekar muda, yang sakti mandraguna. Kemudian pendekar itu memberi 5 kantong yang berisi biji mentimun, merica, garam, jarum, dan terasi untuk melawan Buto Ijo.

Keesok harinya, Buto Ijo datang lagi untuk memakan Timun Mas. Sebelulum Buto Ijo sampai, Mbok Tumi menyuruh Timun Mas untuk segera lari dengan membawa 5 kantong pemberian pendekar sakti.

“Dung . . . Dung . . . Dung . . . Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Mana Timun Mas Mbok Tumi?”

“Ti ti ti timun Mas , Timun Mas sudah pergi sejak tadi pagi!”

“Kurang Ajar kamu Mbok Tumi! Kemana perginya Timun Mas?”

Belum selesai pembicaraan, tiba-tiba Buto Ijo melihat Timun Mas sedang lari dari kejauhan. Buto Ijo langsung secepat kilat mengejarnya.

“Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Hai Timun Mas! Mau Kemana Kamu?”

Tanpa menjawab pertanyaannya, Timun Mas langsung melemparkan kantong yang berisi biji mentimun. Seketika itu juga, tumbuh hutan mentimunyang sangat lebat. Buto Ijo pun terlena dari mengejar Timun Mas, kemudian menikmati mentimun tersebut.

“Nyam . . . Nyam . . .Nyam . . . Nyam . . . Nyam . . .Nyam . . .”

Kemudian Buto Ijo sadar, bahwa dia sedang ditipu Timun Mas. Kemudian, Buto Ijo melanjutkan untuk mengejar Timun Mas.

“Kurang Ajar! Ternyata aku ditipunya, Dia menggunakan kesaktian apa sampai bisa membuat hutan mentimun seperti itu?”

Aksi kejar-kejaran kembali terjadi, ketika akan tertangkap Timun Mas melemparkan kantong yang berisi garam. Seketika itu juga garam berubah menjadi Sungai yang sangat dalam dan deras sehingga Buto Ijo kesulitan menyeberanginya.

“Hap . . . Hap . . . Hap . . . Hua huaaaaap”

Setelah melewati sungai buatan Timun Mas, Buto Ijo kembali mengejarnya. Ketika hampir tertangkap, lagi-lagi Timun Mas melempar kantong yang berisi Merica. Tau tidak apa yang terjadi setelah Merica itu disebar? Seketikita itu, api menyembur menyala-nyala menutupi jalan Buto Ijo.

“Kurang ajar kau Timun Mas, lihatlah ini kekuatanku, apimu akan ku lenyapkan. Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha.”

Setelah api lenyap, Buto Ijo kembali mengejar Timun Mas. Kali ini dilemparkannya kantong yang berisi 7 jarum oleh Timun Mas. Dan ajaib sekali, sekarang muncul hutan yang lebat yang penuh duri. Sehingga Buto Ijopun kesakitan melewati hutan itu.

“Ah a a a ah. Sakit. Sakit sakit. Kurang ajar kau Timun Mas.”

Dengan susah payah, akhirnya Buto Ijo sanggup melewati hutan penuh duri itu. Kemarahannya sudah memuncak pada Timun Mas. Sekarang dia mengejar dengan penuh amarah.

“Ya Tuhan . . . tolonglah hambamu ini. Aku tidak ingin menjadi mangsa Buto Ijo Ya Tuhan.”

Ketika hampir tertangkap, Timun Mas melempar kantong terakhirnya yang berisi terasi. Terasi yang ditabur kini berubah menjadi kubangan lumpur hitam.

“Timun Mas, jangan merasa menang kau! Lihatlah, akan ku lewati kubangan lumpur ini”

“Ayo buktikan kalau kamu berani Buto Ijo!”

Buto Ijo sangat marah mendengar tantangan Timun Mas. Dia melompati kubangan lumpur itu, tapi tidak sampai. Buto Ijopun masuk ke kubangan lumpur tersebut dan tenggelam dan tidak bisa keluar.

“Tolong . . . Tolong . . . tolong aku Timun Mas. Hap . . . hap . . . hap . . . .”

Buto Ijopun mati dikubangan lumpur hitam. Kemudian Timun Mas kembali ke rumah dan hidup bahagia bersama Mbok Tumi.

Demikian cerita yang dapat saya sajikan, yang berakhir dengan kematian Buto Ijo. Teman-teman semua! Jangan tiru sifat Buto Ijo yah! Yang serakah ingin memakan apa saja. Karena keserakahan itu akan menyengsarakan kita sendiri dikemudian hari.

Demikian cerita dari saya. Meski singkat, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL LATIHAN AKM NUMERASI MATERI FPB DAN KPK 1

Materi Satuan Panjang