Naskah Cerita "Timun Mas Diburu Buto Ijo"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Timun Mas Diburu Buto Ijo
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Yang terhormat semua
dewan juri, bapak dan ibu guru yang saya hormati, dan teman-temanku yang
berbahagia.
Perkenalkan nama saya Kalandra Nareswara Handoko dari SDN Tanjungsari Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen. Pada Kesempatan
ini, saya akan membawakan sebuah cerita dengan judul “Timun Mas Diburu Buto Ijo”.
Selamat mendengarkan yah!
Hai teman-teman,
tau tidak cerita Timun Mas Diburu Buto Ijo? Nah, mari dengarkan ceritanya ya! Dikisahkan
dalam sebuah desa bernama Tuwung, hiduplah seorang janda yang sangat miskin,
bernama Mbok Tumi. Dia hanya hidup sebatang kara, dia hanya tinggal digubuk
yang sangat sederhana peninggalan suaminya, yang bernama Pak Toso yang mati
dimakan Buto Ijo.
Mbok Tumi bekerja
sebagai peladang didekat hutan Gungliwung yang jaraknya sangat jauh. Setiap
hari Mbok Tumi keladang untuk mencangkul, menanam atau memetik sayur dengan
berjalan kaki. Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . . selangkah demi selangkah
dilewatinya. Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . Tuk . . . . Lelahnya
sudah tidak dirasa, capeknya pun sudah menjadi biasa.
Suatu hari ketika
Mbok Tumi sedang memetik sayuran diladang, tiba tiba terdengar suara
langkah-langkah yang berat berjalan. Dung . . . Dung . . . Dung . . . . Dung .
. . Dung . . . Dung . . . (sambil melangkah seperti raksasa).Ternyata itu
adalah suara langkah Buto Ijo. Makhluk raksasa yang suka makan daging manusia. Dung
. . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .
Mbok Tumi takut
bukan kepalang, dia tidak bisa lari kemana-mana.
“A a a a a apa
kamu yang na na namanya Buto Ijo?”
“Ha ha ha ha . . .
Ha ha ha ha ha ha. Menang akulah Buto Ijo si pemangsa manusia. Ha ha ha ha . .
. Ha ha ha ha ha ha.
Mbok Tumi semakin
ketakutan. Badannya semakin gemeteran. (Ekspresi gemeteran)
“Buto Ijo . . .
jangan makan aku. Biarkan aku pulang. Aku sudah tua! Dagingku pahit jika
dimakan bisa membuat perutmu sakit nanti” Mbok Tumi berusaha merayu Buto Ijo
agar tidak dimakan.
“Ha ha ha ha . . .
Ha ha ha ha ha ha. Betul sekali, kamu sudah tua pasti dagingmu tidak enak, ini
aku titip biji mentimun untuk ditanam dikebun belakang rumahmu. Kamu harus
menyiraminya 7 kali sehari. 17 tahun kelak aku akan datang kerumahmu untuk
mengambil buah mentimun yang kamu tanam itu. Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha
ha.”
Setelah menitipkan
biji mentimun pada mbok Tumi, Buto Ijo pergi lagi ke hutan Gung Liwung. . Dung
. . . Dung . . . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .
Biji mentimun dari
Buto Ijo pun ditanam. Semakin hari daunnya bertambah lebat, dan buah
mentimunnya bertambah banyak. Ada satu buah mentimun yang besar sekali melebihi
buah semangka. Buah itu oleh Mbok Tumi dibuka, ternyata didalam buah mentimun
itu ada seorang bayi yang sangat cantik. Oe . . . oe . . . oe . . . oe . . . oe
. . . oe. Bayi itu diberi nama Timun Emas.
Singkat kata
singkat cerita, 17 Tahun telah berlalu. Timun Mas kini sudah dewasa. 17 tahun
setelah perjanjian Mbok Tumi dengan Buto Ijo, itu berarti sebentar lagi Buto
Ijo akan datang untuk mengambil Timun Mas.
Dung . . . Dung .
. . Dung . . . . Dung . . . Dung . . . Dung . . . .
“Ha ha ha ha . . .
Ha ha ha ha ha ha. Mbok Tumi, mana buah mentimun yang paling besar itu?” Bentak
Buto Ijo.
“Buah paling besar
yang mana Buto Ijo? Semua buah mentimunnya kecil-kecil dan sudah busuk karena
telah lama ku simpan.”
“Jangan banyak
alasan Mbok Tumi, kalo kalau kamu tidak jujur rumahmu ini akan ku hancurkan”
“Baiklah Buto Ijo.
Jujur saja, buah yang terbesar itu adalah bayi perempuan. Sekarang dia sudah
berumur 17 tahun. Dia kuberi nama Timun Mas”
“Mana Timun Mas
Sekarang?”
Ketika ditanya
keberadaan Timun Mas, Mbok Tumi mencoba berbohong agar Timun Mas tidak dimakan
Buto Ijo.
“Dia sedang sakit.
Kalo kamu makan manusia sakit, nanti kamu juga akan sakit. Mau kamu nanti sakit
Buto Ijo?”
Kemudian Buto
Ijopun mengurungkan niatnya untuk memakan Timun Mas, Dia akan kembali 3 hari
lagi untuk memakan Timun Mas. Selama 3 hari itu juga, Mbok Tumi berfikir
bagaimana caranya agar Timun Mas tidak dimakan Buto Ijo.
Suatu hari ketika
Mbok Tumi Sedang di ladang, tiba-tiba bertemu pendekar muda, yang sakti
mandraguna. Kemudian pendekar itu memberi 5 kantong yang berisi biji mentimun,
merica, garam, jarum, dan terasi untuk melawan Buto Ijo.
Keesok harinya,
Buto Ijo datang lagi untuk memakan Timun Mas. Sebelulum Buto Ijo sampai, Mbok
Tumi menyuruh Timun Mas untuk segera lari dengan membawa 5 kantong pemberian
pendekar sakti.
“Dung . . . Dung .
. . Dung . . . Ha ha ha ha . . . Ha ha ha ha ha ha. Mana Timun Mas Mbok Tumi?”
“Ti ti ti timun
Mas , Timun Mas sudah pergi sejak tadi pagi!”
“Kurang Ajar kamu
Mbok Tumi! Kemana perginya Timun Mas?”
Belum selesai
pembicaraan, tiba-tiba Buto Ijo melihat Timun Mas sedang lari dari kejauhan.
Buto Ijo langsung secepat kilat mengejarnya.
“Ha ha ha ha . . .
Ha ha ha ha ha ha. Hai Timun Mas! Mau Kemana Kamu?”
Tanpa menjawab
pertanyaannya, Timun Mas langsung melemparkan kantong yang berisi biji
mentimun. Seketika itu juga, tumbuh hutan mentimunyang sangat lebat. Buto Ijo
pun terlena dari mengejar Timun Mas, kemudian menikmati mentimun tersebut.
“Nyam . . . Nyam .
. .Nyam . . . Nyam . . . Nyam . . .Nyam . . .”
Kemudian Buto Ijo
sadar, bahwa dia sedang ditipu Timun Mas. Kemudian, Buto Ijo melanjutkan untuk
mengejar Timun Mas.
“Kurang Ajar!
Ternyata aku ditipunya, Dia menggunakan kesaktian apa sampai bisa membuat hutan
mentimun seperti itu?”
Aksi kejar-kejaran
kembali terjadi, ketika akan tertangkap Timun Mas melemparkan kantong yang
berisi garam. Seketika itu juga garam berubah menjadi Sungai yang sangat dalam
dan deras sehingga Buto Ijo kesulitan menyeberanginya.
“Hap . . . Hap . .
. Hap . . . Hua huaaaaap”
Setelah melewati
sungai buatan Timun Mas, Buto Ijo kembali mengejarnya. Ketika hampir
tertangkap, lagi-lagi Timun Mas melempar kantong yang berisi Merica. Tau tidak
apa yang terjadi setelah Merica itu disebar? Seketikita itu, api menyembur
menyala-nyala menutupi jalan Buto Ijo.
“Kurang ajar kau
Timun Mas, lihatlah ini kekuatanku, apimu akan ku lenyapkan. Ha ha ha ha . . .
Ha ha ha ha ha ha.”
Setelah api
lenyap, Buto Ijo kembali mengejar Timun Mas. Kali ini dilemparkannya kantong
yang berisi 7 jarum oleh Timun Mas. Dan ajaib sekali, sekarang muncul hutan
yang lebat yang penuh duri. Sehingga Buto Ijopun kesakitan melewati hutan itu.
“Ah a a a ah.
Sakit. Sakit sakit. Kurang ajar kau Timun Mas.”
Dengan susah
payah, akhirnya Buto Ijo sanggup melewati hutan penuh duri itu. Kemarahannya
sudah memuncak pada Timun Mas. Sekarang dia mengejar dengan penuh amarah.
“Ya Tuhan . . .
tolonglah hambamu ini. Aku tidak ingin menjadi mangsa Buto Ijo Ya Tuhan.”
Ketika hampir
tertangkap, Timun Mas melempar kantong terakhirnya yang berisi terasi. Terasi
yang ditabur kini berubah menjadi kubangan lumpur hitam.
“Timun Mas, jangan
merasa menang kau! Lihatlah, akan ku lewati kubangan lumpur ini”
“Ayo buktikan
kalau kamu berani Buto Ijo!”
Buto Ijo sangat
marah mendengar tantangan Timun Mas. Dia melompati kubangan lumpur itu, tapi
tidak sampai. Buto Ijopun masuk ke kubangan lumpur tersebut dan tenggelam dan
tidak bisa keluar.
“Tolong . . .
Tolong . . . tolong aku Timun Mas. Hap . . . hap . . . hap . . . .”
Buto Ijopun mati
dikubangan lumpur hitam. Kemudian Timun Mas kembali ke rumah dan hidup bahagia
bersama Mbok Tumi.
Demikian cerita
yang dapat saya sajikan, yang berakhir dengan kematian Buto Ijo. Teman-teman
semua! Jangan tiru sifat Buto Ijo yah! Yang serakah ingin memakan apa saja.
Karena keserakahan itu akan menyengsarakan kita sendiri dikemudian hari.
Demikian cerita dari saya. Meski singkat, semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Keren nih Andra dah pinter cerita...
BalasHapusMohon doanya bu guru
HapusKaren veritable
BalasHapusTerimakasih ceritanya
BalasHapusSipp
BalasHapus